GameFever ID
Image default
Review

Review – Metro Exodus

Claustrophobia,Nyctophobia, Arachnophobia, and Myxophobia. Kalo kalian familiar sama 4 Phobia di atas, saya sangat menyarankan anda untuk MUNGKIN mencoba game ini untuk melatih resistansi anda terhadap phobia-phobia yang saya sebut di atas, ATAU, jauhi game ini, sejauh mungkin. Sayangnya kalau kalian jauhi game ini, kalain berarti melewatkan salah satu game single player shooter terbaik tahun ini.

Russia hancur dalam perang nuklir, dan hanya penduduknya yang sempat mengungi ke Metro selamat dari ledakan yang melumpuhkan negara super power itu. Itu latar belakang inti dari dunia Metro. Di metro Exodus, keadannya sedikit diubah. Lorong-lorong gelap di ganti menjadi open world yang tidak jauh kelam. Dunia yang ada di Metro Exodus lumayan beragam, dari area tundra yang penuh dengan rawa, ke padang pasir caspiand yang membentang, penuh dengan sumber minyak. Walaupun perubahan ini cukup signifikan, Metro tetap mengadalkan elemen-elemen lama untuk membuat gamenya kebih hidup. Kita tetap kembali berkutat di ruangan gelap, masih merangkak di gedung-gedung tua.

Story

Cerita di Metro Exodus membawa artyom ke dunia baru di luar kota moskow. ke open world yang penuh dengan karakter-karakter baru yang sayangnya hanya muncul sekilas. terasa setengah-setengah memang, tapi itu nampaknya fokus karakter buildingnya di pindahkan ke dalam Aurora, kerea yang membawa Artyom dan teman-temanya dari Spartan order keluar dari moskow untuk mencari hidup baru di tempat yang lebih bersih, jauh dari radiasi nuklir. Kita akan kembali ke Aurora setiap saat kita menyelesaikan suatu chapter dan interaksi yang ada di dalam kereta tersebut, bisa dibilang lebih mendalam daripada saat kita di open worldnya. Karakter-karakter lain bisa kita dekati, dan mereka akan membicarakan masa lalu mereka, mimpi-mimpi mereka  atau sekedar bersenda gurau. cara ini efektif jadi alat untuk refreshing setelah chapter selesai, tapi juga mengurangi impact karakter baru yang notabene penting kerberadaanya dalam chapter tersebut.

cukup sopan, buat seorang fanatik

Moral point juga kembali lagi jadi fitur di Exodus. Cara kita menghadapi beberapa situasi bisa mempengaruhi ending dari tiap chapter. 4A tidak terlalu jelas dalam hal ini karena indikator kita saat mendapatkan atau kehilangan moral point hanya sekedar percikan cahaya  saat kita melakukan sesuatu yang mempengaruhi moral point. Ini adalah fitur yang paling saya sukai dari seri ini karena pilihan kita terasa organik. Saat kita bertemu dengan penganut agama anti teknologi di Volga, banyak penganutnya tersebar di peta. bagai mana kita membawa diri saat bertemu dengan para penganut agama ini akan mempengaruhi ending yang kita dapatkan saat kita menyelsaikan chapter di Volga. Hampiri mereka dengan senjata siaga, dan mereka akan beraksi dengan kasar. namun, apabila kita hampiri dengan senjata tersimpan, mereka akan jadi lebih ramah. perubahan ini

Gameplay

Semi-linear open world shooter satu ini bisa dibilang berhasil membuat gameplay yang sedikit berbeda dengan pendahulunya. Karena kita sudah tidak lagi memakai peluru sebagai mata uang, Exodus akan terasa lebih royal dari segi aksi tembak menembak, ini di support juga dengan crafting dan modding system mereka yang baru. Semua senjata memiliki mod yang bisa dibongkar pasang. Sistem ini bisa mengubah fungsi senjata sepenuhnya, dari shotgun yang bisa dipasang peredam suara, sampai ke pistol yang bisa menggantikan sniper rifle. Semua ini bisa kita atur sesuka kita, dimana saja kita berada. Kapasitas kita untuk mengubah playstyle kita on-the-go ini memberikan variasi gameplay yang sesuai dengan keinginan kita.

Harus Dibersihin, kalo engga ga bisa nembak.

Combat

Hayooo musuhnya dimanaa?

Combat di Open-world memberikan angin segar ke dalam game yang terkenal claustrophobic ini. beberapa jenis musuh bisa meng kamuflase diri mereka untuk menghindari deteksi kita sebelum akhirnya menyerang tiba-tiba. beberapa bisa menyerang kita dari dalam air, dan berusaha untuk menarik kita jatuh. terasa sekali, keluar dari metro ga berarti semua monster yang lama ga akan kembali, tapi sekarnag kita ketemu sama monster-monster baru.

Lobster Bangke, ngagetin orang.

Mendayung kapal ringkih di tengah sungai keruh penuh mutant lapar bisa jadi bukan kondisi ideal, tapi itulah yang membuat game ini begitu mencekam. Salah satu contohnya adalah saat kita bertemu kembali dengan monster laba-laba yang hanya bisa disakiti oleh cahaya. Di awal misi, kita akan ditemani oleh senter kita, tidak lama kita bisa menyalakan generator untuk mengaktifkan pencahayaan, ini tentu saja membuat perjalanan lebih mudah karena semua laba-laba akan pergi menghindari area yang terang. Lalu semuanya berubah saat listrik padam, dan senter kita tidak akan menyala.

Nightmare Fuel

Mendengarkan gerakan dan suara banyak laba-laba bergerak dalam kegelapan benar benar memberikan perasaan mencekam yang luar biasa. Exodus tidak butuh banyak jumpscare, atau lorong gelap untuk memberikan kesan yang sama dengan game sebelumnya, Tapi mereka cukup menaruh kita di situasi-situasi yang kurang ideal, dan hanya dibekali solusi-solusi kecil yang tidak begitu efektif untuk bertahan hidup.

Graphic

It’s such a pretty game

Dari segi environment, 4A berhasil memberikan kesan dan suasana yang familiar untuk para pemain game metro sebelumnya. Elemen open world nya di support dengan dunia post apocalyptic yang terlihat fantastis. Variasi dunianya juga cukup beragam, dari area Volga yang berawa yang dipenuhi dengan kubangan, ke area padang pasir Caspian yang kering ala Mad Max. semua dunia ini dibentuk dengan indah. Titik-titik tinggi di game ini memberikan pemandangan tersendiri ke dunia post apocalyptic yang sendu dan kelam.

here we go again

Area-area open world  memberikan angin segar ke dunia metro, tapi secara inti, dunia metro masih berkutat di lorong gelap, dan area bawah tanah, dan tidak banyak yang berubah kalau kalian sudah sampai di bawah tanah, atau masuk kedalam metro. Tengkorak dan mayat jadi hal lumrah, dan suara-suara asing masih jadi sumber mimpi buruk.

Overall

Metro Exodus secara garis besar, adalah salah satu pengalaman gaming terbaik saya tahun ini. Selain berhasil mencentang semua point yang membuat seri ini berhasil. Exodus juga memberikan nilai lebih berkat dunia open worldnya yang indah, dan karakter-karakter yang berarti. Walaupun interaksi kita dengan dunianya hanya sekedar mengendap-ngendap, dan menembak musuh. Metro Exodus masih berhasil memberikan pengalaman single player shooter yang sangat indah dan mencekam.

 

Related posts

[Review] Anthem

Bartholomew

Review – Mecha Storm – Boncel-Boncel Gahar

Aldo G. Sutanto

Resident Evil 2 Remake Review

Bartholomew

Leave a Comment