GameFever ID
Image default
  • Home
  • Review
  • [Review] Sekiro: Shadows Die Twice – Tak Cukup Mati Dua Kali
Review

[Review] Sekiro: Shadows Die Twice – Tak Cukup Mati Dua Kali

Sekiro: Shadows Die Twice merupakan proyek teranyar dari developer game asal Jepang, From Software. Bermula dari niat awal untuk menghadirkan kembali seri Tenchu, Sekiro malah menjadi game yang berdiri sendiri. Kesan pertama saat Sekiro pertama kali diumumkan di otak saya terbesit bahwa game ini akan menjadi game Souls dengan rasa Tenchu. Namun saat saya mencobanya dalam beberapa kesempatan, pada saat TGS 2018 misalnya. Saya merasakan banyak hal yang berbeda bila membandingkan Sekiro dan seri Souls atau Bloodborne dari From Software.

From Software berhasil mengubah tema gothic ala barat ke jaman feudal ala Jepang. Atmosfer dunia feudal Jepang yang dibangun lewat Sekiro membuat kesegaran sendiri di mata saya yang kebetulan memang menyukai tema feudal jadul yang ada di Jepang. Tidak hanya itu, mekanisme permainan juga sangat berbeda dengan Souls dan Bloodborne jika kita kembali membandingkannya. Meski sama-sama menghadirkan permainan yang brutal dan penuh darah, Sekiro memiliki mekanismenya sendiri yang mewajibkan pemain Souls atau Bloodborne untuk beradaptasi.

Lalu, apa saja yang ditawarkan dan saya rasakan di Sekiro: Shadow Die Twice? Dalam artikel preview ini saya ingin membagikan pengalaman ketika bermain Sekiro.

Plot

Sekiro berlatar belakang di jaman Sengoku Jepang, dimana perang terjadi dimana-mana yang banyak memakan korban jiwa. Di tengah jaman yang kacau ini seorang Shinobi legendaris bernama Owl menyelamatkan seorang anak kecil yang merupakan tokoh utama di Sekiro. Layaknya seorang ayah, Owl merawat dan membesarkan anak kecil tadi. Tak lupa ia juga menyiapkan sang anak angkat ini menjadi seorang Shinobi yang patuh dan siap mengorbankan hidupnya untuk setia kepada tuan muda yang bernama Kuro – The Divine Heir selamat dari segala macam ancaman kematian.

Sang Lone Wolf yang Ditolong oleh seorang Shinobi

Sayangnya pekerjaan ini tidak mudah. Alih-alih ingin menyelamatkan tuannya, sang tokoh utama justru harus berhadapan dengan tokoh bernama Genichiro yang juga tertarik dengan Kuro – The Divine Heir dan ingin menculiknya. Demi menepati sumpah untuk melindungi tuannya dari segala bentuk ancaman kematian, tokoh utama yang akhirnya mendapat julukan “The Lone Wolf” ini harus bertarung dengan Genichiro. Namun pertarungan ini justru berakhir hilangnya tangan kiri The Lone Wolf dan Kuro – The Divine Heir yang dibawa oleh Genichiro.

The Lone Wolf vs. Genichiro Ashina

Alih-alih mati bersimbah darah, sang tokoh utama justru selamat berkat karakter misterius yang membawanya ke sebuah kuil aneh. Karakter misterius ini memberikan sebuah lengan palsu untuk menggantikan lengan si tokoh utama tadi yang dipotong oleh Genichiro. Dengan adanya lengan palsu yang ternyata memiliki banyak kegunaan ini, si tokoh utama harus meneruskan “misi” untuk menyelamatkan Kuro tuannya dari tangan Genichiro.

Lalu apakah usaha The Lone Wolf dalam misi merebut kembali tuan mudanya berhasil? Apa alasan Genichiro menculik Kuro – The Divine Heir? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut pastinya kalian harus memainkan game-nya hingga selesai.

Presentasi

Seperti yang sudah disebut di awal, niat awal From Software nampaknya ingin mengembangkan seri terbaru Tenchu yang justru malah menjadi game yang mempunyai pondasi sendiri dan kini menjadi Sekiro: Shadows Die Twice. Usaha Form Software dalam membangun Sekiro yang berlatar belakang di jaman Jepang lawas, mendapat apresiasi lebih dari saya. Sekiro menawarkan map yang begitu besar, bisa dijelajah ala stage-stage dalam sebuah game. Meski menawarkan map yang besar, From Software tidak melupakan detail-detail menawan untuk menghidupkan suasana Jepang kuno di jaman feudal.

Suasana depan kastil yang berantakan setelah perang

Ada banyak arsitektur megah ala jaman feudal di Jepang yang bisa dijumpai di Sekiro. Kastil-kastil megah yang besar dan tinggi menjulang ke atas atau landmark lainnya di sekitar dengan detail yang rupawan  mampu membuat para pemain merasa mereka tengah hidup disebuah jaman Jepang kuno. Tidak lupa musik atau suara latar belakang yang terkadang membuat kalian merinding. Suara-suara menakutkan yang kerap muncul membuat sensasi tersendiri yang kalian rasakan. Ditambah suara denting pedang yang saling beradu ketika bertarung satu sama lainnya yang membuat saya terpukau dan seru sendiri.

Ogre yang memiliki kemampuan drop kick

Desain karakter yang dibuat From Software untuk Sekiro juga mendapat dua jempol dari saya pribadi. Dimulai dari desain karakter utama yang sangat pas, dingin dan tak banyak bicara sangat cocok dengan pribadinya yang merupakan seorang Shinobi. Belum lagi desain NPC dan karakter yang ada dan sangat beragam. Di Sekiro kalian tidak hanya berhadapan dengan ninja atau samurai berbadan normal tetapi juga samurai yang memiliki ukuran 3 kali dari ukuran normal lengkap dengan senjata dan baju zirah khas samurai ada. Ada lagi monster tanpa kepala yang masih bisa bertarung lincah, ular putih raksasa yang siap memangsa kalian atau nenek tua dengan kemampuan bertarung yang dapat membuat kalian frustasi.

Apresiasi lainnya yang dapat diberikan untuk From Software adalah adanya dual-voice yang ada di Sekiro ini. Sejak dirilis ada dua audio yang bisa dipilih di Sekiro yaitu Jepang dan Inggris. Adanya audio berbahasa Jepang membuat Sekiro menjadi lebih hidup dan sempurna bagi saya yang memang sangat menyukai suasana ala Jepang. Hingga saya bermain saat ini, audio Jepang yang ada di Sekiro belum ada yang buruk atau tidak pas. Semuanya tersusun rapi sedemikan rupa. Salut untuk From Software.

Gameplay

Meski Sekiro: Shadows Die Twice mengusung tema tebas menebas untuk gameplay-nya, bukan berarti pemain dapat menghabisi semua musuh yang ada secara frontal. Mengingat Sekiro merupakan game dari From Software, ada sebuah cara atau trik untuk menghabisi musuh baik untuk musuh kecil, mini bos hingga bos sebenarnya. Di Sekiro, pemain akan mengalami kesulitan bila melawan musuh yang bergerombol. Mungkin bisa, namun pastinya pemain akan kerepotan. Maka dari itu stealth kill merupakan cara instan untuk menghabisi musuh yang menghalangi jalan.

Deathblow yang dihasilkan dari Stealh Kill

Untuk membantu pemain dalam menghabisi musuh yang ada, From Software juga menambahkan fitur grappling hook yang tersedia di awal permainan. Grappling hook menjadikan Sekiro sedikit berbeda dengan game From Software yang lainnya, karena dengan bantuan alat ini permainan menjadi semakin luwes. Pergerakan vertikal dengan bantuan grappling hook dapat membantu pemain dalam memantau musuh yang akan dibunuh atau pergerakan musuh yang mau dihindari. Pemain juga dapat melakukan stealth kill dari atas terhadap musuh yang di bawahnya.

Pemakaian Grappling Hook

“Mati dua kali”

Hadirnya Sekiro: Shadows Die Twice sebagai game terbaru dari From Software langsung membuat saya men-judge game ini memiliki gameplay dan mekanisme yang mirip dengan seri Souls atau Bloodborne. Membuat saya berpikir bahwa game ini sangat sulit dimainkan, apalagi pengalaman saya bermain seri Souls tidak banyak. Bagi saya pribadi, Sekiro menjadi seperti sebuah benteng raksasa yang menghalangi rasa penasaran terhadap tema dan cerita yang diusung. Melihat pengalaman dari orang-orang sekitar yang mempunyai pengalaman lebih, benteng tersebut sebenarnya bisa dilalui tentunya dengan kerja keras, kesabaran, dan kecerdasaan lebih.

Kematian akan menjadi sahabat di Sekiro: Shadows Die Twice

Untuk “meringankan” beban pemain, From Software menghadirkan fitur unik. Sesuai judulnya, di Sekiro kalian diberi kesempatan untuk mati dua kali. Itu berarti ada kesempatan tambahan ketika kalian menemui ajal di game ini. Berkat fitur ini, kalian tidak perlu mengulang permainan dari checkpoint ketika mati setelah kalah bertarung dengan musuh. Kalian bisa kembali hidup di tempat yang sama ketika kalian mati, memberikan kesempatan untuk menghabisi lawan yang berhasil mengalahkan kalian tadi.

Namun, alih-alih menjadi imba karena bisa hidup kembali, From Software tentunya punya racikan khusus agar fitur ini tidak membuat game ini berat sebelah. Fitur hidup kembali ini tentunya tidak bisa digunakan terus menerus layaknya kalian menggunakan cheat. Ada kondisi tertentu ketika kalian ingin hidup kembali dan meneruskan pertarungan. Jika kesempatan untuk hidup kembali ini habis, tentunya kalian akan memulai proses permainan dari terakhir anda menyalakan atau mengunjungi idol (semacam sistem checkpoint di Sekiro).

Hidup kembali dari kematian

Belum lagi ada harga yang harus dibayar ditiap kematian yang kalian alami. Seperti hilangnya resource yang kalian peroleh dari mengalahkan musuh-musuh kecil di sekitar secara permanen. Sedikit berbeda dengan Souls atau Bloodborne dimana kalian masih bisa mendapatkan resource yang hilang dalam satu kesempatan, di Sekiro justru kalian tidak bisa mendapatkannya kembali. Selain itu tiap kalian mati, EXP poin dan “uang” yang kalian peroleh juga akan berkurang setengah. Tetapi lagi-lagi From Software memiliki ramuan tersendiri untuk membuat pemainnya tidak terlalu frustasi ketika EXP atau “uang” yang telah dikumpulkan hilang setengah.

Unseen Aid

Tidak hanya hal-hal di atas, ada konsekuensi yang ditemui ketika kalian mati, yaitu hadirnya Dragonrot. Di Sekiro, Dragonrot bisa dikatakan sebuah penyakit yang diderita oleh NPC atau karakter yang ada di dalam game. Diceritakan kemampuan sang karakter utama untuk hidup kembali adalah menggunakan sari-sari dari karakter yang pernah bersinggungan dengannya. Jadi, semakin sering bangkit dari kematian, berarti sebenarnya kalian menyebarkan virus Dragonrot tersebut. Hal ini ditandai dengan kalian “Unseen Aid” ketika kalian hidup kembali di idol terdekat.

Efek Dragonrot ini tidak berdampak besar ke alur cerita utama atau mekanisme permaianan dan bahkan bisa disembuhkan menggunakan item bernama Rot Essence. Banyak diantara kami sebenarnya yang menyangkan efek Dragonrot ini tidak banyak mempengaruhi permainan atau membuat Sekiro lebih intens. Tetapi mungkin saja ini juga salah satu cara From Software untuk membantu pemainnya agar tak mudah frustasi, namun pastinya membuat sebagian pemain lainnya yang menyukai tantangan juga merasa sedikit kecewa.

Mekanisme Posture dan Vitality

Selain dapat hidup kembali, Posture dan Vitality juga menjadi mekanisme unik yang ada di Sekiro dimana keduanya merupakan pondasi dalam setiap pertarungan. Posture dan Vitality juga menggantikan sistem Stamina yang ada di Souls dan Bloodborne. Agar simpel, kalian bisa menganggap Posture adalah Armor dan Vitality adalah HP poin yang dimiliki baik musuh ataupun karakter kalian.

Setelah bar Posture penuh, Deathblow bisa dilakukan

Di setiap pertarungan pemain harus fokus terhadap 1 hal yaitu membuka celah untuk melayangkan serangan pamungkas bernama Deathblow. Ada 2 cara yang diharuskan pemain untuk membuka celah tersebut yakni membuat bar Posture penuh atau menghabiskan Vitality bar yang ada di musuh. Posture bar akan penuh seiringan berapa banyak kalian atau musuh melakukan deflect atau parry. Jadi semakin banyak musuh menangkis serangan kalian, bar Posture-nya juga akan cepat terisi.

Kesimpulan

Seperti yang terpampang sebagai judul artikel preview, di Sekiro pemain akan mengalami kematian lebih dua kali. Sekiro: Shadows Die Twice mungkin sering mendapatkan predikat game sulit sebagai kesan pertama kebanyakan pemain karena game ini dibuat oleh From Software. Meski begitu, berkat “belas kasih” dari From Software banyak fitur baru yang diberikan untuk membantu pemain menyelesaikan game ini dan juga membuat Sekiro keluar dari bayang-bayang game milik From Sofware sebelumnya.

Kandidat Game of the Year?

Bagi sebagaian orang termasuk saya sendiri, Sekiro memang game yang sulit. Meski sulit, bukan berarti semua rintangan yang ada tidak bisa dilewati. From Software memang mendesain game ini untuk membuat pemainnya dituntut untuk berpikir cerdas untuk menghadapi rintangan yang ada. Belum lagi mereka juga telah memberikan bantuan untuk membantu pemain terhindar dari rasa frustasi ketika mati terus. Jadi tidak ada yang sulit di Sekiro.

Visual, gameplay, mekanik permainan yang dihadirkan From Sofware lewat Sekiro: Shadows Die Twice patut diapresiasi. Transisi yang dilakukan From Sofware untuk Sekiro berhasil, mempresentasikan jaman feudal di Jepang baik dari segi visual hingga audio pun hampir sempurna. Melihat belum banyaknya game yang membuat saya sendiri terpukau di tahun ini, Sekiro bisa menjadi kandidat Game of the Year buat tahun 2019.

Skor : 9,5/10

Kelebihan:

  • Visual memukau
  • Desain karakter dan monster
  • Cerita yang rapi
  • Fitur bangkit dari kematian yang tidak imba
  • Fitur Vitality dan Posture yang unik
  • Audio yang tepat sasaran

Kekurangan:

  • Sulit untuk kebanyakan pemain

Cocok untuk: gamer yang suka tantangan dan berfikir

Tidak cocok untuk: gamer yang gampang menyerah atau termakan hype semata.

Related posts

[Review] Anthem

Bartholomew

[Review] Mecha Storm – Boncel-Boncel Gahar

Aldo G. Sutanto

[Review] Metro Exodus

Aldo G. Sutanto

Leave a Comment